Jumat, 16 Oktober 2015

AKU DAN TUHAN

AKU DAN TUHAN

Bukan ini yang aku mau. Bukan ini juga yang aku inginkan. Takdir lah yang memilihkannya untuk ku. Agar aku menjadi orang yang lebih kuat dan bijaksana. Tuhan itu sayang pada hamba-Nya. Aku percaya akan hal itu. Sangat tidak mungkin kalau Tuhan membiarkan hamba-Nya dalam keadaan tak semestinya.
Seandainya Tuhan membiarkan ku, mungkin saat ini aku tidak akan merasakan nikmat-Nya. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku harus bersikap Husnudzhan pada-Nya. Karena bagi-Nya mungkin aku ini hamba yang ingin Ia lihat agar selalu menadahkan tangan meminta dan memohon ampunan pada-Nya.
Tuhan masih memberikan kesempatan kendatipun aku masih melakukan kesalahan yang sama. Kenapa tuhan begitu baik pada ku? Apa Ia tidak kecewa melihat ciptaan-Nya melakukan hal yang bodoh? Itulah Maha bijaksana Tuhan. Dalam keadaan apapun ia masih menerima taubat dan memberikan ampunan pada setiap insan yang melakukan kesalahan.
Saat aku mulai sadari kalau aku bukan siapa-siapa di dunia ini. Aku hanyalah sehelai daun kering yang masih menempel di tangkainya, kapan pun angin akan menghempaskannya. Selagi aku masih punya kekuatan dan mampu berdiri aku akan selalu berpegang erat. Itulah aku yang kini sedang dalam keadaan dilema. Kini aku tak mampu lagi membedakan mana ampunan Tuhan dan mana kutukan-Nya. Aku hanya bisa meratapi kesalahan yang selalu aku perbuat. Kenapa tuhan gak istiqomahkan saja aku. Mungkin aku akan menjadi apa yang Ia mau.
Sudah lah. Ini adalah hidup ku dan aku harus belajar menerima kalau sebenarnya Tuhan tak mungkin melepaskan genggaman-Nya. Aku harus bisa menyadari kalau aku adalah yang terbaik yang Tuhan ciptakan. Aku adalah yang paling beruntung yang Ia ciptakan. Tapi kenapa aku masih tak menyadari hal itu? Bodoh!
Kadang keanehan ku muncul pada Tuhan. Tuhan itu kemana? Apakah Tuhan itu adil? jawaban HATI adalah HATI. Yah Tuhan itu HATI. Subtasnsi itu berpengaruh terhadap jalan hidup yang Tuhan rancang. Kalau substansi itu benar maka jalan terbuka menuju kebenaran. Kalau substansi itu buruk maka jalan kebenaran akan tertutup rapat.
Kadang aku sendiri berpikir, kenapa Tuhan menghidupkan ku? kalau kenyataannya Ia limpahkan keburukan pada ku. Bukan kah ia Tuhan? Yang maha Tahu apa yang akan aku lakukan. Kenapa Ia tak coba untuk hentikan aku? Dimana Tuhan?
Lagi-lagi HATI. Apakah hati mu sudah siap menyimpan nama Tuhan? TIDAK! Lantas kenapa kamu meminta Tuhan untuk menyimpan namamu? Aku hanya mempunyai dua pilihan. BAIK dan BURUK. Jalan mana yang harus aku pilih? Kebenaran memang hal yang agung dan mulia. Tapi keburukan juga merupakan hal yang istimewa. Kamu benar karena tahu keburukan. Kamu buruk pun masih punya sisi kebenaran. Orang benar memang sudah tertata, sedangkan orang buruk masih menata. Hidup, mati, dan hidup lagi tergantung dari bagaimana kamu menempatkan kebenaran dan keburukan.
Yang buruk memang sudah jelas buruk. Yang lebih buruk justru mereka yang benar, tapi tak mampu menyelipkan kebenaran dalam keburukannya. Aku ini apa? Aku hanya menata kebenaran tapi merancang keburukan. Bagaimana Tuhan akan memahami mu kalau kamu sendiri tak memahami apa yang Tuhan inginkan dari mu.
Jangan bodoh! Cobalah sedikit untuk pintar. Bukan mereka yang ahli mesin. Bukan juga mereka yang ahli teknologi. Cobalah pintar untuk belajar menghitung. Berapa JUTA nikmat yang Tuhan berikan padamu? Adakah orang yang ahli menghitung mampu menghitungnya?? Bukalah substansi (hati) mu. Keistimewaan terletak pada mereka yang mampu mengimbangi keburukan dengan kebenarannya. Artinya, orang tersebut terus mencoba membenarkan apa yang seharusnya benar. Bukan hanya menyalahkan Dzat-Nya. Janganlah kamu mencoba mencari Tuhan, karena kamu akan meminta dan mencari kebenaran Tuhan. Lihat lah dirimu sekarang! Apa yang kamu berikan pada Tuhan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar