HUJAN
Hujan itu bukan hanya sekedar air
yang jatuh, tetapi ia selalu mengerti bahwa hanya dengannya lah kita bisa
menyampaikan rindu yang tiada berkesudahan. Ada beragam cara dalam menyampaikan
rindu kepada seseorang, apalagi di era media sosial seperti sekarang ini. Facebook, Twitter, Line, Imo, Instagram,
dan BBM, mereka itulah sarana kita
dalam menyalurkan rasa rindu kepada seseorang. Tidak dengan Ilham. Menurutunya,
cara terbaik merindukan seseorang itu adalah dengan mendoakannya. Merindukan
seseorang itu tidak perlu pengakuan dari orang lain. Cukup dia dan Tuhan saja
yang tahu.
Rindu yang telah lama terbendung kini akan
segera berakhir. Empat tahun sudah penantiannya, tiga hari lagi akan segera
terbayarkan.
Suara telephone berdering.
“ Hallo assalamualikum Asti”
“Waalaikum salam Ilham. Maaf
malam-malam mengganggu, aku boleh minta tolong?”
“Iya Asti kamu minta tolong apa?”
“Waalaikum Salam Asti”
Segera setelah itu Ilham bergegas.
Derasnya hujan tidak membuat ia urungkan niatnya. Menurutnya, yang membutuhkan
jauh lebih penting daripada takut sekedar basah karena hujan. Menolong orang
itu bukan apa yang telah orang lain lakukan kepada kita, karena menolong adalah
perintah dari Tuhan yang harus kita lakukan. Kalau kita mampu. Apalagi yang
membutuhkan pertolongan adalah teman kita sendiri. Selagi kita mampu dan bisa,
tidak ada alasan untuk menolaknya.
“Kamu mau kemana malam-malam Ilham?
Hujannya masih deras” tanya ibunya dengan lembut.
“Asti membutuhkan pertolongan Ilham
bu, maaf ya bu Ilham buru-buru.”
Ilham pun segera pamit kepada
ibunya.
Nama lengkapnya adalah Asti Pujia
Lestari. Anak ketiga dari dua bersaudara. Satu-satunya cewek dan menjadi anak
kesayangan ayahnya. Dia adalah sahabat
semasa SMA Ilham dan sampai sekarang mereka masih bersahabat. Asti gadis yang
baik, periang, dan pekerja keras. Hobinya main futsal. Walau pun ia cewek ia
tidak kalah hebat dengan kawan-kawan cowok lainnya. Hobi futsal pun ia masih
tetap cantik apalagi kalau hobinya nari, pasti jauh lebih cantik. Kata
teman-teman sekelasnya. Suka futsal bukan berarti tomboy. Menurutnya. Sewaktu
SMA mereka sering bertengkar, adu pendapat dan adu kemampuan dalam mata
pelajaran. Mereka berdua sangat menyukai mata pelajaran yang sama, yaitu
sejarah. Semua teman-teman kelasnya memanggil mereka berdua adalah bapak dan
ibu sejarawan. Dari seringnya pertengkaran, bercandain satu-sama lain sampai
mengerjakan tugas-tugas kelompok lah awal mereka bersahabat, yang pada akhirnya
mereka bisa saling mengenal karakter masing-masing.
Ilham pun akhirnya sampai ke tempat
les Asti. Ditengah basah kuyup Ilham masih tetap menorehkan senyum manisnya.
Tanpa sedikit pun merasa terbebani dan direpotkan. Itu lah Ilham. Dia selalu
tidak ingin terlihat direpotkan.
“Maaf Asti kelamaan nunggu” sambil
memarkirkan motor kesayangannya.
Asti tersenyum lebar.
“Kenapa kamu yang minta maaf Ilham,
harusnya aku yang minta maaf karena udah ngerepotin kamu. Maaf yah Ilham.”
jawab Asti dengan suara samar-samar. Derasnya hujan membuat suara Asti tidak
terlalu jelas.
Ilham pun duduk disebelah Asti
sambil mengusap-usap rambut basahnya.
“Hujannya lumayan gede As, makanya
aku lama soalnya pelan-pelan aku bawa motornya. Takut jatuh. Kalau jatuh entar
gak ada lagi temen cowok kamu yang manis kayak aku” cerocos Ilham dengan
meledak-ledak.
Asti hanya menatap Ilham. Sesekali
ia tersenyum.
“Kamu udah makan belum? Kalau belum
nanti kita mampir ke Pak Kodir. Sepertinya enak ujan-ujan gini makan bakso”
tanya Ilham yang masih mengelus-elus rambut basahnya.
Asti terus menatapnya. Entah apa
yang dia lihat dan pikirkan.
“Eh malah bengong. Mau ngga kita
makan bakso dulu?”
Seolah kaget Asti pun menjawab
dengan terbata-bata.
“Iya mau ayo kita makan bakso”
“Kamu kenapa sih As? Ada yang kamu
pikirkan? Ada masalah dengan les bahasa Inggris
kamu? Apa guru lesnya bercandain kamu lagi? Apa ada teman les kamu yang
rese?” cerocos Ilham. Tanpa titik koma.
Asti hanya tersenyum.
“Jangan hanya senyum-senyum Asti!
aku tidak akan tergoda dengan senyum kamu. Mungkin iya buat laki-laki lain,
tapi tidak buat aku!” (tertawa kecil)
“Oh gitu ya” jawab asti dengan nada
dingin.
Hujan semakin deras. Waktu
menunjukkan pukul 20:00. Kendaraan roda dua dan empat yang biasanya hilir mudik
mendadak sepi. Terdengar suara penjual sate yang mencoba memberitahu para
pelanggannya. Mencari keberuntungan ditengah derasnya hujan.
“Boleh aku bertanya?”
“Iya boleh lah As masa iya bertanya
aja gak boleh” jawab Ilham dengan nada bercanda. Sambil mengelus-elus rambut
basahnya Ilham membalikan badan dan menatap tajam mata Asti.
“Apa aku salah menyukai kamu?”
Ilham terdiam sejenak. Ia
menggaruk-garuk kepala. Sesekali ia tersenyum. Entah itu senyuman apa.
“Ini bercandanya tingkat dewa As”
pungkas Ilham yang seolah masih heran dengan pertanyaan Asti.
“Dulu aku sempat sepakat dengan diri
ku sendiri bahwa kita itu lebih baik berteman aja. Iya aku tahu, kalau
persahabatan kita itu jauh lebih penting. Tapi kamu juga harus ngertiin aku,
tidak mudah buat aku membuang persaan ini bahkan sudah dua tahun lamanya pun
itu masih terpatri kuat dalam hati ku. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa suka
sama orang kayak kamu. Kurus, tidak terlalu cakep, aneh, suka bercanda tidak
jelas, kadang bikin aku kesel, suka usil, paling seneng ngejitak-jitak kepala
aku padahal aku paling benci kalau kepala aku disentuh orang lain, jorok juga
suka kentut sembarangan, orang yang tidak pernah memperhatikan dan tidak ingin
tahu soal penampilan. Nama aja kamu Ilham, tapi kelakuan aneh. Tapi entah
kenapa itu semua buat aku tidak terlalu penting. Yang aku tahu, aku cinta kamu
Ilham Adi Nugroho. Satu lagi deh tambahan, kamu itu suka pura-pura kuat padahal
mewek juga di kamar” tutup Asti
Suasa seketika hening. Hujan pun
mulai berhenti. Hanya suara tetesan-tetesan air yang jatuh dari pepohonan yang
menjulang tinggi. Angin bertiupan syahdu meriakkan dedaunan di depan lembaga
les bahasa Inggris itu. Waktu pun
menunjukkan pukul 20:30. Asti yang mencoba membendung air matanya agar tidak
jatuh, dan Ilham hanya tertunduk seolah itu sebuah mimpi. Seketika sikap
konyolnya hilang. Sekonyol-konyolnya seorang laki-laki kalau ditembak cewek
pasti kaget dan salah tingkah gituh. Nembaknya langsung lagi di depan mata.
Gadis berhijab ternyata bisa seberani itu mengungkapkan perasaannya tanpa ada
rasa takut bahkan gengsi sekalipun, tapi sekuat-kuatnya hati wanita kalau mau
nangis ya nangis aja. Dia adalah sosok yang tidak bisa menahan air mata. Itu
lah wanita.
Kemudian Asti membalikan badannya dan
menghapus air matanya.
Tidak ada yang salah memang dalam
cinta. Hanya saja terkadang cinta itu datang kepada orang yang menurut kita
tidak mungkin. Ya, ketikdamungkinan itu lah bisa menjadi mungkin kalau cinta
sudah berbicara. Begitu dahsyatnya kekuatan cinta, membuat orang kadang menjadi
buta, menguras emosi dan air mata, dan terkadang penuh dengan drama dan
sandiwara.
Keduanya seolah tidak percaya. Asti dengan
begitu tegasnya mengakui perasaan dia yang selama ini ia simpan sendirian, dan
Ilham seakan masih sama. Ini hanya mimpi. Ini hanyalah mimpi. Pikirnya.
Ilham pun mencoba lebih dekat dengan
Asti. Bukan Ilham namanya kalau tidak bisa mencairkan suasa kembali. Walau pun
tidak seperti biasanya, setidaknya bisa mengurangi kecanggungannya. Keadaan itu
membuat Ilham bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Dengan wajah yang
memerah, akhirnya Ilham mencoba mencairkan suasa kembali.
“Terima kasih atas kejujuran mu Asti
anak gaul. Aku salut cewek kayak kamu bisa jujur juga yah. Bisa suka lagi sama
orang kayak aku. Emang iya yah pesona aku ternyata bisa bikin kamu jatuh cinta
juga.”
Asti kemudian tersenyum.
Masih sama dengan senyuman manisnya. Tapi
matanya tidak bisa berbohong. Ibarat sebuah bendungan yang tidak mampu lagi
menahan beban air yang masuk. Asti mencoba terus menahan air matanya agar tidak
jatuh tepat di depan Ilham. Menurutnya, air mata adalah tanda kelemahan
seseorang dan kita lemah hanya ditujukan kepada satu saja, yaitu Tuhan. Bukan
kepada manusia.
“Aku serius Ilham!” dengan nada yang tidak
seperti biasanya.
Ilham hanya menggaruk-garuk
kepalanya. Wajah dan telinganya memerah. Sesekali ia tersenyum.
“Kamu malu yah Ilham?” tanya Asti
“Malu kenapa? engga ko, biasa aja.”
“Kamu tidak bisa berbohong. Aku
kenal kamu udah lama. Wajah dan telinga kamu itu merah, dan tandanya kamu
malu.”
Ilham tidak bisa lagi mengelaknya.
Seperti itulah Ilham, kalau ada pada posisi malu wajah dan telinganya semuanya
merah.
Ilham masih menggaruk-garuk
kepalanya. Sesekali ia mengelus-elus rambutnya padahal udah kering.
“Aku tahu, dalam sebuah persahabatan antara
cewek dan cowok hal itu pasti terjadi. Ini buktinya. Tapi yang aku tahu, hanya
sedikit orang yang mampu mengakui persaannya, dengan alasan takut
persahabatannya hancur. Tidak bagi kamu. Kamu telah melakukan hal yang benar As.
Aku tidak bisa mendahului ketentuan Tuhan dengan mengatakan kalau aku tidak
mungkin bisa mencintai mu, kalau Tuhan membalikkan hati ku? Kita bisa apa.
Sekarang mungkin iya, aku masih menganggap bahwa kamu tetap Asti yang sama
yaitu sahabat ku, tapi rasanya itu tidak adil buat kamu. Kamu mencintai orang
yang mencintai orang lain. Aku bisa apa As?
dan kamu juga tahu, kalau hati ku sudah ada yang mengisi dan aku tidak
bisa membuka ruang untuk orang lain. Aku harap kamu mengerti itu. Aku minta
maaf, karena untuk saat ini aku masih mencintai orang yang sama.” Jawab Ilham.
“Masih sama kepada orang yang
sekarang di Malaysia” Jawab Asti dengan bulatnya.
Mereka berdua larut dalam tawa.
Sesekali Asti membalikan badannya. Begitu pun dengan Ilham. Mereka berdua
menghapus air matanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar